OK OCE Logo OK OCE Indonesia
Beranda Berita Event & Pelatihan Komunitas Penggerak Donasi Kemanusiaan Tentang Kami FAQ & Bantuan

OK OCE Indonesia Fasilitasi Pelatihan Menulis PENAMI, Dorong Lahirnya Penulis Komunitas Berdampak

OK OCE INDONESIA

Jakarta — Menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga menyuarakan pengalaman dan menghadirkan makna. Semangat inilah yang diusung oleh OK OCE Indonesia dalam Pelatihan Menulis bersama Komunitas Pena Kami (PENAMI) yang digelar pada Minggu, 1 Februari 2026, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, bertempat di Kantor OK OCE Kemanusiaan, Tebet, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini menghadirkan Bapak Munawar Azis, seorang trainer, mentor, coach, sekaligus instruktur dan pembina Komunitas Pena Kami (PENAMI), sebagai narasumber utama. Kegiatan ini ditujukan untuk ruang belajar bersama bagi anggota komunitas dan pegiat literasi yang ingin mengembangkan kemampuan menulis secara lebih terarah dan berdampak. Pelatihan difokuskan pada penguatan dasar kepenulisan, mulai dari menemukan ide yang jujur, mengolah pengalaman personal hingga memahami peran tulisan dalam konteks sosial.

“Momentum ini sangat berharga bagi saya, karena terbentuknya sebuah komunitas penulis yang akan menjadi cikal bakal lahirnya penulis-penulis luar biasa di OK OCE Indonesia,” ujar Pak Azis.

Dalam sesi materi, Pak Azis menekankan bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak ditulis. Menulis tidak harus menunggu sempurna, tetapi perlu keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk terus berkembang. Peserta diajak memahami bahwa tulisan dapat menjadi medium refleksi, dokumentasi, sekaligus alat untuk menyampaikan nilai dan perubahan di lingkungan sekitar.

Kemudian Pak Azis juga menegaskan bahwa menulis memiliki peran penting bagi siapa pun, tanpa memandang profesi maupun latar belakang. Menurutnya, menulis merupakan bagian dari kehidupan yang membantu seseorang mengenali dan mengeksplorasi potensi dirinya.

“Menulis itu penting untuk semua orang. Apa pun profesi, karier, dan statusnya. Menulis membantu kita mengeksplorasi apa yang ada di dalam diri kita,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa tantangan utama penulis pemula bukan pada kemampuan teknis, melainkan pada sikap dasar yang harus dibangun sejak awal. “Hal paling krusial bagi penulis pemula adalah niat. Tapi niat saja tidak cukup tanpa komitmen dan konsistensi. Tiga hal ini harus berjalan bersama,” tambahnya.

Pelatihan berlangsung secara interaktif dengan diskusi terbuka dan sesi praktik menulis. Peserta diajak menggali ide dari pengalaman personal, mengenali keresahan sosial di sekitarnya, serta berani menuangkan gagasan ke dalam tulisan sederhana namun bermakna.

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan yang disampaikan. Risal Saputra, peserta asal Leuwiliang, Bogor, mengaku tertarik mengikuti pelatihan ini karena ingin membangun relasi sekaligus meninggalkan jejak melalui karya tulis.

“Saya ingin menambah relasi, menambah pengetahuan, dan nama saya tidak berhenti di batu nisan. Saya ingin nama saya tertulis di buku yang bisa dibaca generasi berikutnya,” ujarnya.

Risal juga mengaku terkesan dengan semangat narasumber. “Kondisinya sedang kurang sehat, tapi semangat beliau luar biasa. Itu jadi pemacu bagi kami generasi muda untuk berkarya lebih berarti,” katanya.

Hal senada disampaikan Cecep Supardi, peserta asal Ciputat, Tangerang Selatan. Ia menilai pelatihan ini sangat inspiratif dan membuka kesadaran bahwa menulis adalah bentuk dedikasi jangka panjang.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Menulis adalah dedikasi agar di akhir hayat kita punya karya yang mencerahkan dan menginspirasi,” ungkap Cecep.

Ke depan, Cecep berharap peserta dapat segera menghasilkan karya nyata. “Kami harus punya proyek dan secepat mungkin menghasilkan tulisan sebagai karya,” tambahnya.

Menutup kegiatan, Pak Azis menyampaikan harapannya agar Pelatihan Menulis PENAMI menjadi awal dari gerakan literasi yang lebih luas. Ia berharap para peserta kelak dapat menghadirkan karya-karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.

“Harapan saya besar, ini bisa menjadi cikal bakal yang memberi dampak positif bagi bangsa dan negara, serta melahirkan banyak penulis hebat yang bermanfaat bagi semua,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, OK OCE Indonesia ingin membuka ruang yang lebih luas bagi tumbuhnya suara-suara komunitas yang selama ini belum banyak terdengar. Menulis dipandang bukan sekadar keterampilan, melainkan proses memahami diri, lingkungan, dan realitas sosial secara lebih jernih. Dari ruang sederhana, OK OCE Indonesia berharap benih-benih literasi ini terus hidup, berpindah dari satu komunitas ke komunitas lain, dan melahirkan cerita-cerita yang memberi makna serta dampak nyata.

Bagikan: WhatsApp Telegram Facebook X

Artikel terkait