OK OCE Logo OK OCE Indonesia
Beranda Berita Event & Pelatihan Komunitas Penggerak Donasi Kemanusiaan Tentang Kami FAQ & Bantuan

Ngabuburit Talks #1: Kupas Tuntas Perbedaan Bisnis Zaman Now dan Zaman Nabi, Tegaskan Nilai Amanah dan Spirit Pembuka Rezeki

OK OCE INDONESIA

Jakarta — Kegiatan Ngabuburit Talks #1 bertajuk “Perbedaan Berbisnis Zaman Now VS Berbisnis Zaman Nabi” diselenggarakan pada Rabu, 25 Februari 2026 pukul 15.00–16.00 WIB secara daring melalui Zoom Meeting. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Vienkan Bahreyis Khotazan, Founder Seeker Revolution, serta Ust. M. Umar Jaisyurrahman yang mengulas dimensi spiritual dalam membuka pintu rezeki sebagaimana dicontohkan pada masa Rasulullah.

Kegiatan ini digelar sebagai ruang edukasi sekaligus refleksi bagi pengusaha, pekerja, dan masyarakat umum dalam menyambut bulan Ramadhan. Melalui forum ini, peserta diajak memahami bagaimana sistem dan pola bisnis terus berubah mengikuti perkembangan zaman, namun nilai-nilai dasarnya tetap relevan sepanjang masa.

Dalam pemaparannya, Vienkan menekankan bahwa perbedaan utama antara bisnis masa kini dan masa Nabi terletak pada sistem, teknologi, dan kompleksitas regulasi. Jika pada masa Rasulullah aktivitas perdagangan dilakukan secara langsung dan berbasis kepercayaan personal di pasar-pasar regional, maka bisnis era modern bergerak dalam skala global dengan dukungan digitalisasi, legalitas formal, sistem transaksi elektronik, serta strategi branding yang terstruktur.

Kemudian, Vienkan juga memaparkan 5 aspek utama pembeda, yakni pasar, kepercayaan, sistem, transaksi, dan evolusi industri. Pasar yang dahulu bersifat lokal kini telah menembus batas geografis. Kepercayaan yang sebelumnya dibangun melalui integritas personal, kini diperkuat dengan rekam jejak digital, ulasan publik, dan identitas merek. Sistem usaha pun berkembang dengan regulasi hukum, model bisnis, serta tata kelola perusahaan yang semakin kompleks. Sementara itu, pola transaksi telah bergeser dari barter dan tunai menjadi digital dan berbasis teknologi finansial.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perubahan sistem tidak boleh menggerus nilai. “Sistem boleh berubah, tetapi nilai harus tetap. Amanah, komitmen, dan profesionalitas tetap menjadi fondasi utama,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya orientasi kebermanfaatan dalam berbisnis, bukan semata mengejar profit, agar usaha yang dijalankan memiliki dampak sosial yang berkelanjutan.

Sementara itu, Ust. M. Umar Jaisyurrahman mengaitkan praktik bisnis dengan amalan yang membuka pintu rezeki sebagaimana dicontohkan pada masa Rasulullah. Ia menjelaskan bahwa secara prinsip, tidak ada perbedaan nilai antara bisnis zaman Nabi dan zaman sekarang, karena Al-Qur’an tidak terikat ruang dan waktu.

Dalam tausiyahnya, ia menyoroti dua amalan utama, yakni istighfar dan syukur. Mengutip Surah Nuh ayat 10–12, ia menjelaskan bahwa istighfar bukan sekadar permohonan ampun, tetapi juga sarana turunnya keberkahan dan kelapangan rezeki. Dosa, menurutnya, dapat menjadi penghalang rezeki, sehingga memperbanyak istighfar menjadi salah satu ikhtiar spiritual yang relevan bagi pelaku usaha.

Selain itu, ia menekankan pentingnya syukur dalam tiga bentuk, yaitu pengakuan dalam hati bahwa nikmat berasal dari Allah, pengucapan melalui lisan, serta pembuktian melalui perbuatan, salah satunya dengan sedekah. Ia mencontohkan kisah sahabat nabi, Abdul Rahman bin Auf, dikenal sebagai seorang yang dermawan dan semakin dilapangkan rezekinya setelah menginfakkan hartanya.

Kegiatan ini menegaskan bahwa keberhasilan bisnis di era modern tetap membutuhkan keseimbangan antara kompetensi, adaptasi teknologi, serta keteguhan nilai dan kedekatan kepada Allah dan kegiatan Ngabuburit Talks #1 ini diharapkan menjadi awal dari rangkaian diskusi inspiratif yang tidak hanya membahas strategi bisnis, tetapi juga membangun kesadaran bahwa usaha yang dijalankan dengan nilai dan keberkahan akan membawa manfaat yang lebih luas, baik di dunia maupun akhirat.

Bagikan: WhatsApp Telegram Facebook X

Artikel terkait