Abah Odang’s Ranch Jadi Sorotan Mahasiswa USC dalam Studi Lapangan Peternakan Sapi Perah di Bandung

Bandung — Program Global Applied Research hasil kolaborasi OK OCE Indonesia dan USC Marshall School of Business terus berlanjut melalui agenda dairy farm group yang melibatkan mahasiswa internasional. Dalam rangka memahami secara langsung ekosistem peternakan sapi perah di Indonesia, mahasiswa USC melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah peternakan, salah satunya Abah Odang’s Ranch yang berlokasi di kawasan Bandung.
Kunjungan ini menjadi ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa untuk menggali berbagai aspek operasional peternakan sapi perah, mulai dari manajemen ternak, produksi susu, hingga pola kemitraan dengan peternak lokal. Diskusi berlangsung interaktif, dengan fokus pada praktik usaha, tantangan yang dihadapi pelaku usaha, serta keberlanjutan peternakan berbasis keluarga dan komunitas di Indonesia.
Abah Odang selaku pemilik peternakan menjelaskan bahwa usahanya telah berjalan sejak tahun 1981 dan saat ini mengelola sekitar 50 ekor sapi. Tidak hanya mengelola usaha sendiri, ia juga berperan aktif dalam mendukung peternak di komunitas sekitar, mulai dari praktik perawatan ternak, pengumpulan susu, hingga membantu peternak pemula untuk memulai usaha.
Model usaha yang dijalankan menekankan pendekatan berbasis komunitas, termasuk sistem kemitraan dan berbagi pengetahuan antar peternak. Susu hasil produksi didistribusikan melalui koperasi berbasis komunitas sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi para peternak.
“Kami menerapkan pola kemitraan agar peternak bisa tetap berkembang dan usaha ini bisa berjalan berkelanjutan,” ujar Abah Odang.
Dalam praktik operasionalnya, peternakan menerapkan sistem pemberian pakan secara teratur, yaitu rumput tiga kali sehari dan konsentrat dua kali sehari. Manajemen kesehatan ternak juga dilakukan melalui vaksinasi rutin, termasuk penanganan penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dengan memanfaatkan program pemerintah seperti penyuluhan dan layanan kesehatan ternak.
Meski demikian, Abah Odang juga mengungkapkan adanya tantangan dalam menjalin kerja sama dengan pihak eksternal, terutama akibat pengalaman sebelumnya dengan investor yang menimbulkan ketidakpercayaan. Hal ini membuat pendekatan usaha lebih berfokus pada penguatan komunitas dibandingkan ekspansi berbasis investasi eksternal.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa USC Lauditya Malik, Jesse Hutchinson, dan Lucas Oliveira menggali lebih dalam terkait pencatatan data ternak, produktivitas susu per ekor, serta strategi peningkatan hasil produksi. Mereka menyoroti bahwa keterbatasan sistem pencatatan data individu sapi menjadi salah satu peluang perbaikan dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha.
Mereka juga mengusulkan pemanfaatan teknologi, seperti aplikasi digital dan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu dalam pencatatan data dan pengambilan keputusan. Menanggapi hal tersebut, Abah Odang menunjukkan keterbukaan untuk mencoba teknologi tersebut apabila dapat memberikan manfaat nyata dalam operasional peternakan.
Kunjungan ini tidak hanya memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa internasional, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara akademisi global dan pelaku usaha lokal. Dengan adanya pertukaran pengetahuan ini, diharapkan dapat mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat keberlanjutan industri peternakan sapi perah berbasis komunitas di Indonesia.
Artikel terkait
Eksplorasi Pengembangan Wakaf Produktif Sektor Riil, Yayasan OK OCE Kemanusiaan Hadiri Waqf Investor Forum 2026
Perkuat Pengelolaan Dana Abadi Lintas Generasi, OK OCE Kemanusiaan Hadiri Intimate Gathering Rumah Zakat